YayBlogger.com
BLOGGER TEMPLATES

Minggu, 22 Januari 2012

Reuni singkat


Di sela-sela liburanku, aku menyempatkan reuni dengan teman-teman smpku. Tak banyak orang yang datang. Hanya tiga orang, ditambah denganku menjadi empat orang.
Seperti dahulu ketika kami bertemu. Aku bersama yang lainnya menceritakan suka duka kami yang selama tidak bertemu telah dilewati tanpa yang lainnya. Dan itu sangat banyak sekali.
Aku menceritakan kehidupanku melewati beberapa bulan terakhir di SMA yang notabene temanku di sekolah adalah temanku di SD juga. Selvy menceritakan kesehariannya bersekolah di SMAN 2 Tambun Selatan. Azka di SMAN 1 Tambun Selatan dan Galuh di SMAN 1 Blitar.
Kami terus bercerita sampai lupa waktu. Tak terasa empat jam sudah waktu yang  telah kami lewati bersama. Dan semua itu kami habiskan dengan kisah menarik, candaan, timpal balik dan sebagainya. Kalau suda seperti ini, rasanya aku ingin kembali menjadi siswi smp lagi dan selalu bertemu mereka setiap hari.

Read is My Favorite Hobby


Selama liburan sekolah, hal yang nggak pernah aku lupakan di setiap harinya yaitu membaca. Bukan seseorang kutu buku yang rajin membaca buku pelajaran. Itu hanya membuat jenuh. Tapi sebuah bacaan berupa novel remaja.
Aku memang membaca novel. Tetapi berbeda perangkatnya dengan persepsi kebanyakan orang. Biasanya yang dimaksud novel adalah sebuah buku dengan ratusan halaman penuh tulisan. Tapi yang kubaca ketika liburan adalah sebuah halaman di komputer yang kuambil dari beberapa blog pada layanan networking.
Kebanyakan penulis-penulis novel yang beredar di internet hanyalah penulis amatiran. Seseorang yang hobi atau hanya coba-coba menuangkan imajinasi mereka ke dalam serangkaian tulisan. Lalu mereka publis di blog mereka masing-masing atau sebuah blog dengan banyak penulis lainnya.
Meskipun hanya seorang ‘freelance’, karya mereka cukup membuatku ketagihan untuk membaca karya-karya mereka selanjutnya. Tak kalah hebat dengan penulis novel terkenal lainnya yang karyanya beredar di seluruh toko buku. Mereka dapat mengembangkan imajinasinya sebagus mungkin, mengapresiasikannya dan mendapat dukungan hebat dari pembaca lainnya.
Yang menjadi pusat perhatian orang bukanlah penulis terkenal dan melupakan penulis amatiran, tetapi karya mereka yang hebat yang dibutuhkan oleh para pembaca. Intinya adalah, tak peduli siapa yang menulis yang penting adalah sebuah pemikiran yang dapat memanjakan otak dengan membangun imajinasi tersusun yang disebut novel.

Malam Tahun Baru, Menyedihkan......


Tahun baru kali ini sangat berbeda dengan tahun baru sebelumnya. Di waktu kami ingin menyambut tahun baru 2011, kami sekeluarga bermain-main di luar rumah sambil menunggu saat-saat pergantian tahun. Tapi kali ini, kami harus berdiam diri di kamar untuk mempersiapkan hari esok karena akan ada sebuah perjalanan besar yang menanti.
Satu jam sebelum tengah malam, aku masih belum bisa tidur karena tak rela melewatkan kesempatan bagus seperti ini dengan cara yang sangat biasa. Bahkan aku sempat berpikir untuk mengunjungi rumah teman tanpa diketahui oleh orang tuaku. Tapi segera kutepis pikiran tersebut takut-takut aku tidak diajak untuk pejalanan besok.
Akhirnya aku membuka aplikasi berbagai blog untuk menghilangkan bosan. Sampai pada saatnya telingaku menangkap berbagai suara letusan kembang api yang terdengar bising. Kali ini aku tidak akan berdiam diri lagi di dalam rumah.
Aku pun keluar dari rumah setelah mengunci pintu. Sambil menenteng kunci rumah di tangan, aku berjalan ke arah lapangan terdekat dari rumahku. Banyak orang disana yang sedang merayakan pergantian tahun. Ada yang sibuk dengan tongkat kembang apinya, berlarian, berteriak, atau hanya berdiri sambil menyumpal telinganya dengan tangan.
Lima belas menit sudah suara-suara yang ditimbulkan oleh kembang api itu memenuhi indra pendengaranku. Sekarang suara-suara tersebut sudah mulai berkurang. Aku pun bergegas kembali ke rumah sebelum orang tuaku sadar bahwa aku tidak ada di rumah. Ketika aku memutarkan kunci kembali dan berjalan memasuki ke kamar. Ku buka pintu kamar dan mendapati mamaku duduk di kasur.
“Darimana, Ra?” tanyanya.
“Dari luar,” jawabku sekenanya. Kuharap tak ada lagi juntaian kalijat yang keluar dari mulutnya.
aku berjalan ke arah kasur. Sebelum aku dudu atau pun merebahkan diri di atas kasur, mama sudah berdiri duluan dan berjalan menuju pintu.
“Kalau besok kamu susah dibangunin, mama tinggal,” katanya.
Dengan segera aku pun tidur dan menarik selimut. Memaksakan tertidur meskipun tidaka ada rasa kantuk sama sekali. Semoga besok aku tidak ditinggal sendirian.

Gate Away!!!!


H-1 sebelum malam tahun baru. Pagi ini aku terduduk di sofa ruang tengah sambil mengganti channel tv. Semakin lama acara tv semakin tak ada yang menarik saja.
Aku berhenti pada salah satu channel dimana sedang menayangkan sebuah berita. Dikabarkan hari ini pada jam 5 sore akan ditutupnya jalur menuju Bandung. Segera aku memperhatikan berita itu dengan seksama.
Seperti yang telah diketahui. Jalan tol akan sangat ramai oleh para pengendara mobil. Oleh karena itu pihak keamanan melakukan penutupan jalur ini. Tapi yang membuatku khawatir bukanlah padatnya mobil yang akan menjejali jalanan Bandung, tapi terancamnya aku dan keluargaku yang tidak bisa berangkat ke Bandung. Itu membuat mama yang sedang duduk di sofa bersamaku ribut sendiri.
Memang pada waktu sebelumnya, keluarga sudah merencanakan bahwa hari ini, tepatnya setelah ayahku pulang dari kerja (sekitar jam 2) kami akan pergi mengunjungi rumah nenek di Bandung dan akan melewati malam tahun baru di sana. Itupun kami rencanakan berangkat dari rumah setelah shalat maghrib.
Jika ayahku pulang pada waktunya dan kami mengubah jadwal keberangkatan menjadi pukul setengah tiga, mungkin tidak akan terlambat untuk mencapai lokasi Bandung atau perbatasan Bandung yang akan ditutup. Tapi itu tidak mungkin meneliti bagaimana keluarga kami yang akan dengan santainya mempersiapkan segala sesuatu sebelum meninggalkan rumah. Dari mulai mengemas baju dan hal yang lainnya seperti mengecek keadaan rumah. Belum lagi mandi yang pastinya akan memakan waktu yang sangat lama dikarenakan kamar mandi hanya ada satu dan kami berempat harus bergantian untuk memakainya.
Aku pun mengecek kebenaran berita tersebut di internet. Tapi yang dikatakan justru berbeda. Disebutkan bahwa jalur Bandung tidak akan ditutup. Hanya diberlakukan sistem buka tutup saja. Aku memberitahukan berita dari internet kepada mama yang langsung mengurungkan niatnya untuk menelpon kepada ayah tentang berita sebelumnya(yang dari tv).
Tak berapa lama kemudian, aku mematikan komputer dan berjalan kembali ke sofa, menyalakan tv. Dan aku benar-benar pusing. Sebenarnya mana berita yang benar?
Seperti pada awalnya, berita di tv mengabarkan bahwa jalan di Bandung benar-benar akan ditutup. Mereka juga menyiarkan acara secara live dan itu berarti terjadi pada detik yang sama. Mama yang dari awal memang sudah resah dengan berita tersebut  akhirnya menelpon ayah dan mengabarkan bahwa kami tidak akan pergi ke Bandung hari ini juga.
Menyesal sekali mendengar kabar yang simpang siur tersebut membuat kami mengurungkan niat berlibur. Jadwal yang sebelumnya sudah ditetapkan oleh kami jadi berantakan hanya karena berita yang tak pasti. Andai saja yang di internet itu benar, aku pasti sudah merayakan tahun baru di Bandung.

Awal Liburanku

 
Tidak seperti sekolah lain pada umumnya, sekolahku mengadakan sebuah kegiatan sebelum melepas para muridnya berlibur untuk tahun baru. Atau mungkin kebebasan sementara setelah melewati satu semester yang diakhiri dengan ulangan semester pertama.
Pada awalnya, kami sangat terbebani oleh adanya kegiatan tersebut. Siapa yang tidak keberatan jika mendapati dirinya harus memasuki kawasan layaknya kandang buaya. Apalagi harus menginap segala, dua hari satu malam.
Sekolah menuntut kami untuk belajar militer di sebuah markas angkatan laut nasional yang ada di Jakarta. Bagi kami para pelajar, khususnya kaum perempuan sudah membayangkan betapa menderitanya kami disana.
Di hari keberangkatan kami ke markas, kami menaiki tronton yang biasanya dipakai untuk mengangkut para angkatan laut. Tronton tersebut memang telah disediakan oleh pihak angkatan laut untuk kami. Mereka mengerahkan empat tronton yang nantinya akan dihuni oleh dua angkatan. Dua tronton dipakai untuk satu angkatan, satu untuk perempuan dan satunya lagi untuk laki-laki.
Selain menaiki tronton, kami juga memakai perahu sebagai alat transportasi untuk sampai ke tempat tujuan. Satu perahu digunakan untuk kami semua. Tapi berbeda pola pakainya dengan tronton. Perahu akan bolak-balik ke tepian untuk mengangkut sebagian-sebagian dari kami.
Aku dan rombonganku adalah adalah bagian dari kelompok terakhir. Itu artinya kami adalah yang terakhir sampai di markas. Kami diarahkan ke sebuah gor besar dengan harus berjalan baris-berbaris. Di gor kami menaruh bawaan kami dan kembali keluar untuk melakukan apel sambutan.
Kami digiring ke sebuah tempat dimana ada sebuah jalan beton panjang dan lebar yang dijadikan sebagai perbatasan daerah tersebut dengan laut lepas. Jalan itu bukanlah daratan yang dibawahnya berupa tanah bumi, melainkan air laut yang disanggah oleh besi besar.  Jalan tersebut merupakan jalan lurus yang di satu sisinya menghubungkan beberapa sisi dari daratannya. Dan disisi lainnya dibentuk trotoar kecil untuk batasan dari perbatasan tersebut.
Kami melakukan apel menghadap utara tempat tersebut. Ditemani oleh angin yang tidak ramah dan mental kami yang sebelumnya jarang (atau mungkin satu atau dua kali dalam setahun) melakukan upacara membuat kami sangat lelah meskipun apel baru dilaksanakan 45 menit. Apel seperti ini juga mengharuskan kami berjemur di bawah matahari, membuat kami berpikir bagaimana cara mengembalikan warna kulit seperti beberapa waktu yang lalu.
Setelah selesai apel, kami semua di arahkan ke berbagai sub unit dari markas angkatan laut. Mereka memperkenalkan satu tempat ke tempat yang lainnya. Tak lupa juga mereka mengajak kami ke kapal besar yang tepikan di ujung tempat ini.
Hari-hari kami dilalui dengan kehidupan militer. Belajar PBB, harus menuruti kemauan para angkatan laut (seperti tidak boleh berbicara, badan harus tegap), sampai waktu makan yang dibatasi. Dan perlu diketahui bahwa semua yang kami lakukan harus baris berbaris. Tidurpun juga begitu. Semuanya rapih berhadap-hadapan sesuai dengan ketentuan mereka.
Di penghujung acara, mereka mengumpulkan kami untuk melakukan apel penutupan. Apelnya persis dengan apel yang pertama. Ditempat yang sama, dengan ditemani oleh para angkatan yang sama.
Setelah itu mereka mengadakan acara organ tunggal dadakan. Jujur saja, kami tidak menikmati acara tersebut. Itu acara yang sangat membosankan(menurutku).
Setelah itu kami pulang dengan menaiki perahu dan tronton. Lega rasanya menyelesaikan kegiatan yang tidak menyenangkan tapi harus dilakukan menyangkut resiko yang akan didapatkan jika tidak mengikuti kegiatan inui. Semoga di kegiatan lainnya, tak ada lagi acara menyebalkan seperti ini.

Sabtu, 14 Januari 2012

Resolusiku di Tahun 2012

 
Di awal tahun 2012 ini, pasti banyak hal-hal yang terlintas di otak kita untuk menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya. Entah itu dari segi ibadah, pendidikan ataupun hal-hal yang lainnya sesuai dengan keinginan setiap orang. Pemikran itu juga membuatku memiliki hal-hal yang ingin aku perjuangkan di tahun ini.
Aku berharap di tahun 2012 ini, aku bisa meningkatkan keimananku. Mungkin lebih khusyuk lagi shalatnya, banyak mengaji, atau mungkin yang nggak pernah aku lakuin terlepas dari acara sekolah yaitu shalat tahajud. Kalau shalat wajib lima waktu sih.... sudah nggak perlu ditanya lagi. Kalau yang satu itu pasti nggak akan lupa. Kecuali kalau ada bulan merah datang. Hehe....
Setelah urusan ibadah yang utama dan paling utama, mungkin aku akan memikirkan hal yang kedua untuk orang tua. Aku berharap bisa membahagiakan orang tua. Bukan karena sebelumnya aku belum pernah membahagiakan orang tua, tapi lebih menaruh kesan untuk tahun ini. Siapa tahu di tahun 2013 nanti aku bisa menutup tahun ini dengan penuh sukacita mengingat kenangan indah yang pernah terukir di tahun ini. Dan di tahun selanjutnya, aku dapat mengingatnya kembali melalui arsip otak dan hati menyangkut tahun 2012 ini.
Dan mungkin dunia pendidikan inilah yang menjadi titik temu antara harapan aku sama orang tua. Untuk yang ketiga, aku ingin agar pelajaran sekolahku semakin baik. Nggak males males lagi. Nggak ada yang namanya ngulur-ngulur waktu kalau mau belajar. Resolusi ini selalu ada di setiap resolusi tahun-tahun sebelumnya. Tapi mungkin nggak teralu banyak perubahan. Ya..... dari yang nilainya pas-pasan menjadi sedikit di atas pas-pasan.
Mengingat rapot terakhir yang kurang memuaskan kedua orang tua, sebenarnya aku sedikit menyesal. Mau banget lihat orang tua bahagia karena lihat rapotku tapi nyatanya datar-datar aja. Berarti gak ada perubahan menuju lebih baik dong? Tapi kan gak ada perubahan lebih buruk juga, kan............. #eh gak boleh begitu! Seharusnya tahun ini lebih baik daripada tahun kemarin, Ira.
Jujur aja, orang tuaku itu hanya menginginkan anak pertamanya ini agar ‘lebih baik’ di dunia pendidikan. Masuk IPA dan nantinya dapat melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi lagi dengan mudah. Aku sih mau mau aja. Mereka juga sering ‘memotivator’ aku buat lebih serius lagi. Tapi yang namanya SMA, mama, ayah, aku juga butuh penyegaran otak (yang pasti positif) yang mungkin terlihat lebih banyak daripada belajarnya.  Tapi kan bukan berarti aku sejam belajar seharian main.
Untuk teman-teman aku dari yang setiap hari ketemu sampai bosen, dan yang jarang ketemu (berarti yang sering nggak dong?), tenang aja. Berbahagialah kalian karena masuk ke daftar resolusiku tahun ini. Jujur aku kepingin banget jadi orang yang lebih friendly sama orang, saling sapa menyapa, atau setidaknya senyum gitu. Tapi susah banget buat jadi seperti itu. Itu bukan gayaku banget. Biasanya kalau ketemu orang paling cuman ngeliatin orangnya aja, beranggapan bahwa ‘oh... itu orang lagi ada di situ’. Tapi aku mau yang beda. Aku mau lebih terbuka sama mereka. Mau punya banyak teman. Banyak temen dan banyak temen sampai satu sekolah kenal sama aku. Kalau perlu sampai di luar unit juga nggak apa-apa. Kan lumayan minta follback di twitter sekaligus konfirm di facebook *gak deng.....
Munkin segitu aja(?) kali ya buat resolusinya. Masih belum kepikiran hal lainnya. Namanya masih di awal tahun jadi masih belum tahu apa harapan yang akan menjadi harapan beberapa bulan dari aku ngetik tulisan ini. Siapa tahu di pertengahan tahun minta harapan ketemu artis Korea..... huahaha (namanya juga cuman harapan, iya gak?)